Jumat, 16 Oktober 2026

Dear R

Tulisan ini sudah mengendap di draft sejak Juni lalu, tapi karena banyak sekali pekerjaanku di bidang penyelenggaraan ini, aku tidak sempat meneruskannya dan jadilah aku memutuskan membuat tulisan baru saja.

Tanggal 3 Juni kemarin aku baru saja dikukuhkan sebagai PNS setelah setahun menjalani masa CPNS. Akhirnya setelah 9 tahun ini hidupku bisa dikatakan luntang-luntung, berpindah kerjaan, sambil mengurus anak yang juga sedang menjalani terapi.



Menarik sekali cara Allah mengatur hidupku. Setelah bertahun-tahun ini aku tenggelam dalam penyesalan, kelelahan, dan tentunya ketidakpastian masa depan, tiba-tiba aku mendapat pekerjaan yang terhormat ini, yang katanya pekerjaan menantu idaman (pret), yang aku tidak perlu khawatir soal dana pensiun, tunjangan anak, dan tentunya sekarang aku sudah bisa menjawab dengan bangga kalau ada yang menanyakan aku kerja apa. Masa depanku sudah tidak gelap lagi.

Setidaknya kalau nanti anakku ditanya orang, ibunya kerja apa, dia bisa jawab:

"Mamaku Widyaiswara, mamaku ngajarin pejabat-pejabat"

Lucunya, cuma selang beberapa hari sebelum pengumuman CPNS, aku gak sengaja menemukan akun tiktok adiknya mantan suamiku. Aku jarang buka Tiktok, tapi kebetulan banget malam itu aku kepingin lihat aplikasi ini. Ketemu lah postingan foto keluarga mantan suamiku. Entahlah mungkin kesambung dari nomor HP. Ada satu perempuan yang aku gak pernah lihat, dan anak kecil yang mukanya mirip anakku. One lead to another, aku menemukan akun instagram perempuan ini, istrinya mantan suamiku. Yang kebetulan public.

Aku melihat banyak foto dia sama mantan suamiku. Dari situ aku tahu dia udah punya dua anak dari istri dia yang sekarang. 

Kepalaku langsung sakit. 

Tapi gak sesakit hatiku..

Gimana enggak. Ada postingan happy anniversary di tahun 2021. Anaknya sama si perempuan ini udah dua di tahun itu. Padahal sidang kami di tahun 2019 (atau awal 2020 ya?). Taruhlah misalnya anak pertama dan kedua jaraknya deketan. Misal anak pertama lahir tahun 2020, nikahnya kapan? Pacarannya kapan? PDKT-nya kapan?

Gak perlu jadi ahli matematika untuk tahu itu semua saat dia masih suamiku.

Aku jadi ingat beberapa bulan sebelumnya, mamaku juga pernah bilang foto profile picture-nya mantan suamiku foto anak kecil. Tapi gak kugubris.

Pantas aja tiap kuajak ketemu anakku gak pernah mau, selalu ada aja alesannya. Pantes aja waktu aku lagi kerepotan ngurus anak di rumah kontrakan kami, dia sering pergi.


Oh, ternyata ada hati yang dijaga

...

Dadaku sesak banget. Kepalaku sakit. Mataku sampai bengkak gak jelas karena nangis berhari-hari. Enak sekali dia. Di sini aku kesusahan ngurus anak sendirian, bawa dia sekolah, terapi. Habis terapi di klinik, masih lanjut terapi di rumah. Waktu, tenaga, uang, dikerahkan buat anakku dari aku semua. Menghadapi semua rasa malu, rasa takut. Rasa takut akan masa depan, gimana kalau nanti orangtuaku udah ga ada, dan saudaraku semua udah punya kehidupan masing-masing, aku harus gimana sendirian besarin anak ini.

Dia justru membangun kehidupan baru.
Boro-boro nafkahin, menanyakan anak kami saja gak pernah. 
Apa memang laki-laki begitu ya? Rasa sayangnya ke anak tergantung pada rasa sayang dia ke ibu si anak.

Kalau diingat lagi, dulu aku mengajukan pisah sama dia karena aku sadar betul menghadapi semua sendirian. Aku dulu tolol banget percaya semua kata-katanya yang kelihatannya kayak dia tuh real man banget. Sampai saat aku kontraksi dia keluyuran entah kemana, sering meninggalkanku sendirian mengurus bayi di rumah kontrakan kami, wajah kusutnya setiap kali ku mintai tolong. Puncaknya, saat aku kembali ke Jogja dan menunggu dia lama sekali di bandara, ternyata dia datang naik motor. Aku sudah menunggu selama itu sambil menggendong new born sampai ditanyain orang, tapi ujung-ujungnya aku tetap naik taksi sendirian, angkut barang sendirian, dan dia cuma ngekor di belakang. Sampai rumah, kondisinya kotor, berantakan, kasur berdebu, air bak habis, mana gak disiapin makan. Kalau tau begini kan mending aku langsung aja pesen taksi lalu bersih-bersih sendirian, dan pesen makan sendiri. Buat apa aku nunggu lama dengan harapan dia bakal bantu aku dan bayi kami kalau ujung-ujungnya aku juga yang urus semuanya sendirian.

Di titik itu lah aku sadar..
Aku gak bisa sama orang ini selamanya.

Aku capek harus urus semua sendirian, harus ngasih tau apa yang harus dia lakukan, aku benci ngemis-ngemis.

Dia bilang ke semua orang kalau aku gak ngehargain dia. Tapi emang siapa yang gak ngehargain siapa sih?

Mantan suamiku serapuh itu. Sepertinya dia tau aku sudah sadar, dia tau aku sudah gak mau mengelus-elus egonya lagi, dan memilih mencari yang baru alih-alih belajar jadi lebih baik.

Aku bukan cuma sakit, tapi juga marah. Aku begitu repot, menyesal, malu dan lelah tapi dia happy-happy di sana. Aku bahkan sampai gak mikirin dia selama beberapa tahun ini, sekalinya tau kabarnya bahwa dia udah punya keluarga baru adalah di tahun 2025. 

Tapi semarah-marahnya aku sama dia, aku lebih marah sama diriku sendiri. Gimana aku bisa sebodoh itu percaya sama dia, milih dia, menjalin hubungan sama dia, sampai punya anak sama dia. Banyak sekali yang hilang dari aku, banyak sekali pintu kesempatan tertutup.

Lucunya setelah mataku bengkak, besoknya aku membaca pengumuman akhir CPNS dan ada namaku di daftar peserta yang lolos.

Allah benar-benar jatuhin aku sejatuh-jatuhnya sebelum kasih aku kabar bahagia. Mungkin agar aku tahu dulu semuanya dan belajar menerima, sebelum memulai chapter hidup yang baru. Tahun 2025-2026 ini aku memulai lagi semuanya dari nol dan menata kembali hidupku.

Pada akhirnya aku cuma bisa berkata: Ya sudahlah..

Jalan hidupku mungkin memang begini. Aku belajar memaafkan diriku sendiri, memaafkan diriku yang mengambil keputusan dengan kapasitas dan pengetahuan yang aku miliki saat itu.

Aku tidak bisa menerima perlakuannya, tidak akan pernah bisa. Tidak akan bisa move on karena aku punya anaknya (yang mukanya mirip banget sama dia). Aku akhirnya menerima bahwa aku tidak bisa menerima.

Aku menulis ini untuk berjaga-jaga kalau aku sudah tidak ada di dunia. Setidaknya dengan tulisan ini aku bisa menjelaskan perubahan behaviour-ku selama ini, yang jadi avoidant dan gampang cut orang karena aku takut ditinggal lagi. 

Ja, kalau kamu baca tulisan ini, aku mohon jadilah suami dan ayah yang baik buat istri dan anak-anakmu. Perlakukan mereka dengan baik dan jadilah suami dan ayah yang bertanggungjawab. Alhamdulillah kalau kamu bisa jadi suami dan ayah yang baik di kehidupanmu yang sekarang. Jangan tinggalin mereka apapun alasannya. Biarlah aku aja yang jadi korban. Masa depanku masih panjang. Mungkin jalanku memang jadi janda kaya atau ibu-ibu pejabat, entahlah.

Soal balasan dan dosa, biarlah itu jadi urusan Allah. Aku juga bukan manusia yang suci. Andai kamu tahu, waktu aku melayangkan pisah, aku masih berharap kelak kamu bisa kembali kepadaku dalam keadaan kita sama-sama sudah lebih baik, karena biar bagaimanapun kita punya anak bersama, kita keluarga dan aku menyayangimu (saat itu aku mikirnya gitu).

Tapi sekarang sudah tidak bisa.


Semoga kamu bahagia dan sehat selalu.

Dear R

Tulisan ini sudah mengendap di draft sejak Juni lalu, tapi karena banyak sekali pekerjaanku di bidang penyelenggaraan ini, aku tidak sempat...