Rabu, 27 April 2016

My Chemical Engineer Identity

Di teknik kimia, setelah melewati 4 semester, mahasiswa boleh milih mau ambil konsentrasi apa. Ada 4 pilihan: 
1. Teknologi material (material), 
2. Teknik Pangan dan Bioproses (pangan),  
3. Energi dan Lingkungan (energi), 
4. Perancangan dengan Bantuan Komputer dan Teknik Keselamatan (pemrograman).

Gue ambil peminatan pas semester 5 tuh pangan. Tapi sekarang gue baru sadar beberapa hal ini:

Peminatan yang gue ambil itu pangan,
Penelitian gue itu nguras otak buat ngolah data di Matlab, atau dengan kata lain pemrograman,
Kerja praktek (KP) gue itu di perusahaan minyak, berhubungan dengan energi
Tugas akhir gue perancangan pabrik yang produk utamanya bahan baku bom/tenaga nuklir.

Identitas gue sebagai tekkimers gak jelas banget lah mau konsentrasi gue sebenernya apa. 

Diary Penelitian: Akhirnya Matlab

Part ini bener-bener harus gue tulis. Hari ini udah nyaris dibikin pingin nangis karena informasi dari Ais yang php yang ngabarin kalo Prof udah ada di kampus, dan gue sampe buru-buru ke kampus selesai makan sama Hunny. Eh, pas di kampus, bapak e udah pergi lagiii waksss x(

Tapi setelah berharap dan berdoa, gue akhirnya melihat sosok Prof sedang bejalan membawa tas di lorong. Pakai syal dan masker ijo. Sepertinya belum sehat.

Gue pun langsung konsul hasil olah data di Matlab. Karena laptop gue baterenya rada bapuk dan biar gak nunggu lama nge-run programnya, maka kodingan dan hasil run program gue print. Tapi onengnya, gue lupa nge-print bagian grafiknya, jadi akhirnya gue nyalain laptop dan nge-run programnya di depan Prof. Untung batere laptop lagi mau diajak kerjasama.
Well, ada beberapa penyimpangan sih, but it's all right, ntar tinggal di jelasin aja di pembahasan.
Alhmdulillaaah di-acc. Setelah berkali-kali revisi pemrograman. Berasa praksus.

Fuaaah, akhirnyaa pemrogramannya udah beres. Tinggal bikin naskah seminar dan laporan.

Sekarang masalahnya malah dari TU. Gak dibolehin seminar minggu ini masa, karena terlalu mepet. Padahal kalo minggu depan kan udah lewat deadline berarti nilainya dikurangi :( Huh, ga rela banget padahal penelitian ini lumayan ribet tau gak sih, dan ngabisin banyak duit dan pemronya susyah :(

Tapi yaudahlah, syukuri aja. yang penting udah beres olah datanya. daripada buntu dan ngulang 6 bulan lagi..

Sabtu, 23 April 2016

Diary Penelitian: Ini Penelitian atau Praktikum Khusus, Sih?

I'm done with Matlab...

Minggu, 17 April 2016

Diary Penelitian: Pemrograman oh Pemrograman

Akhirnya setelah lama banget menanti papa pembimbing pulang umroh dan nyelesein urusannya di rektorat selama beberapa hari terakhir dan sulit ditemui di kampus tekkim, kemarin jumat akhirnya ketemu juga. Nunggu dari jam 9 pagi dan baru ketemu selesai solat jumat jam 1.

Jadi gini, hasil kerjaan gue setelah ketiga kalinya nge-run akhirnya selesai dianalisa dari lab kimia analitik jurusan kimia MIPA. Alhamdulillah setelah benerin metode gara-gara petunjuk-Nya yang diberikan melalui seorang teman bernama Vendra yang tiba-tiba dateng pas gue nge-run kali ketiga. Waktu itu gue habis matiin kompresor dan alat itu lagi proses mau berhenti dengan mengurangi kecepatan aliran udaranya, yang mana otomatis gelembung udaranya jadi makin berkurang. Nah saat gelembung udaranya perlahan berkurang ini, Vendra dateng dan melihat kerjaan gue.

Vendra : "Wuih, alatmu bagus ya. Aku juga kayaknya harusnya kayak gini deh"
Indah: "Masa sih? Simple banget lho ini padahal"
Vendra: "Engak, Ndah. Bener punyamu. Harusnya gelembung udaranya jangan besar-besar soalnya bisa chanelling (aliran gak merata), gitu kata Bu Aswati" 

Tring! tiba-tiba gue menyadari kesalahan gue selama ini. Gue menggunakan debit udara yang terlalu besar untuk sistem berupa labu leher tiga yang volumenya 2000 ml. Gue jelasin dulu ya, jadi kan penelitian gue tentang oksidasi besi dalam air dari yang tadinya si besi itu nge-blend sama air jadi bisa terbentuk endapan yang bisa diambil setelah dioksidasi pakai udara. Yang gak gue perhitungkan adalah, bahwa reaksinya adalah reaksi dapat-balik. Artinya, besi yang tadinya udah terendap bisa balik lagi nge-blend sama air kalau ada turbulensi yang besar dari aliran udaranya. Plus, kelarutan oksigen dalam air juga kan terbatas. Beuuuuh pantes aja data-data hasil nge-run sebelumnya kok fluktuatif terus. Untung aja dapet ilham dari Vendra. Walaupun dia ngiranya besarnya debit udara yang hampir habis saat kompresornya gue matiin itu adalah yang emang gue gunain. Padahal mah aslinya lebih besar wkwk. Ven, Ven, kamu gak sadar udar nyadarin aku akan kesalahanku :p. Thankyou lho ya.
Oh ya, untung juga penelitiannya Vendra memakai aliran fluida juga. Cuman bedanya kalo gue simpel cuman aliran udara dari kompresor, nah punya dia pakai gas yang lain. Gue lupa dia pakai gas apa yang pasti dialirin juga ke sistem yang dia teliti. 
Jadi yaudah, gue coba lagi nge-run yang keempat kalinya kali ini debit udaranya gue kurangi. Manometer (alat pengatur debit udara) yang tadinya di-set 4 cm, jadi cuma 1 cm. 
Well, sempet beberapa kali gak lancar gara-gara kompresornya lupa gue buka saluran output yang satunya jadi tekanannya membesar dan metong sendiri (untung gak ketauan laboran :p)

Akhirnya hasil keluar. Daaaaaaan alhamdulillah linier! Sesuai teori bahwa semakin tinggi suhu, konsentrasi besi dalam air bakal berkurang karena reaksi berjalan makin cepat. Yah, walau ada sedikit data yang masih fluktuatif sih. Terutama yang 50 derajat celcius.

Dan itu menjadi masalah berikutnya..

Jadi setelah gue olah datanya pakai software Matlab, ternyata Kca-nya (Koefisien transfer massa volumetrik) ada yang janggal di suhu 50 itu. Harunya kan Kca gak berubah seiring berubahnya suhu. Kalaupun berubah, gak beda jauh. Untuk suhu 30 hasilnya 20 koma dan suhu 70 hasilnya 21 koma. Gak terlalu jauh. Nah yang 50 ini hasilnya kok beda sendiri. Dapetnya 8 koma. Nahlho.

Maka yaudah, jumat kemarin gue konsul ke Pak Wahyudi pembimbing gue. Beliau sempet heran gitu Kcanya kok jomplang yang 50 ini. Terus you know what, gue disuruh bikin pemodelan lagi! Pakai rumus baru yang dia kasih. Yaitu pakai Arrhenius. lebih banyak konstanta dan gue harus gabungin semua titik suhu di satu pemodelan aja. Kalau yang sebelumnya kan satu pemodelan untuk satu suhu. Nah ini gue harus gabung semua dengan men-trial nilai Kca, "Ke" (Konstanta kesetimbangan), dan konstanta-konstanta Arrheniusnya, buat dapet "Kr" (Konstanta kecepatan reaksi) yang semakin besar di masing-masing suhu. 

Anjir lah, lebih ribet dari yang pertama yang dibagi tiga pemodelan. Untungnya gue dibantu Ais yang emang jago pemrograman. Tapiii ya gitu hiks, nge-runnya lama banget karena banyak banget iterasinya dan laptop gue juga cupu sih buat ngolah data. Jadi gue cuman diajarin cara-caranya aja. Lalu hari ini gue coba ngerjain dan stuck hiks bener-benr stuck gak bisa jalan gitu programnya. Sedih banget. 

Deadline udah tinggal 5 hari. Dosen juga susah ditemuin. Pemronya susah. Oh god why harus dapet dosen pembimbing pemro gini kan harus pake pemro dan ini bidang yang gue paling gak bisa hiks. Somebody help

Tapi tetap harus semangat dong yaa


Selasa, 12 April 2016

Judul TA

Beuh, udah harus nentuin judul TA aja. PenelitianP masih tahap analisa dan belum bikin pemodelannya, eh udah harus ngajuin judul TA aja hahaha tahun terakhir ya ..

TA di jurusan teknik kimia itu adalah membuat perancangan pabrik kimia. Dari mulai prosesnya, alatnya, hitung-hitungan alatnya, safety-nya, keuangannya, struktur organisasi pabriknya, lokasi pabrik, target penjualan, dan lain-lain. Semua ilmu lo seputar chemical engineering tools, such as neraca massa, neraca panas, kesetimbangan, rate processes, ekonomi, dan humanitas, diuji dalam tugas akhir ini.
Jadi gue dan my lovely partner Hartika kebetulan udah ngajuin dua judul dasar TA.

1. Prarancangan Pabrik Serbuk Uranium Dioksida dari Gas Uranium Heksaflorida.
2. Prarancangan Pabrik Magnesium Oksid dari Bittern dan Batu Kapur.

Harus bener-bener banyakin konsul dan baca-baca TA kakak angkatan. Bismillah semoga lancar. Dan kalau judul udah fix (kapasitas bla bla bla), maka segera dimulai hari-hari padat penuh dengan konsul dan ngutak-ngatik aspen plus matlab. Hal yang menantang jelas aspen dan matlab ini. Gue jujur aja gak jago programming, Apalagi dalam teknik kimia, pemrogramannya adalah bidang modeling. Modeling sendiri dalam teknik kimia bukan peragawati yang berpose di depan kamera memakai pakaian yang fashionable, namun modeling di sini adalah bagaimana memodelkan permasalahan dalam perancangan pabrik dengan metode matematika dalam bentuk kodingan biar bisa dijalankan oleh program. Jujur aja matkul-matkul pemrograman yang udah gue ambil nilainya gak ada yang cucok hahaha. Gue selalu iri sama anak-anak di jurusan yang jago programming dan mereka kalo ngerjain tugas-tugas pemodelan tuh udah kayak bermain piano yang bernada. Tapi gue akan terus belajar buat TA ini. It's a challenge. 
Kalo soal chemical engineering tools kayak bikin neraca massa, dan lain-lain insya Allah bisa lah, itu udah kayak makanan sehari-hari anak tekkim.

Penelitian, kerja praktek, dan tugas akhir perancangan pabrik. Mereka yang udah menjalani menyebutnya The three hell of chemical engineering. Tiga tugas besar yang WAJIB dan semua dibebankan selama satu tahun akhir di perkuliahan teknik kimia.

Bismillah..

Senin, 21 Maret 2016

Diary Penelitian: Percobaan Pendahuluan Part 2: WKWKWKWKWKWK

Hujan-hujanan ke MIPA demi ambil hasil..
pas lihat hasilnya..
..
.
Ahelah
.......
......
.....
....
...
..
.


KOK FLUKTUATIF LAGI?!!

Minggu, 13 Maret 2016

Another Insomnia: Heading to The Future

It's already 1.40 am and i know i should've sleeping right now cause i got a class at 7 am but, well..

Just checked my old harddisk and found my old photos when i was in highschool.
Asli, kalo ada mesin waktu, pingin deh rasanya datengin diri gue di masa itu terus nyisirin rambutnya, ngelulur mukanya pake bayclin, gue seret ke salon buat smoothing, trus gue paksa ganti bajunya dari celana gombrong ga jelas jadi dress ala-ala gitu. Lo tuh cewek dikit ngapa! Makanya gak punya pacar

Bila berkaca pada diri gue di masa lalu, gadis item-keriting-muka-berminyak-gak-menarik yang cupu banget. Bahkan gue pernah diejek "botem" aka bocah item oleh cinta pertama gue sewaktu kelas 5 SD dulu. (Tapi pas SMP gue baru tau kalo ternyata dia sebenernya naksir gue. Cihuiy). Oke ini gak penting. Hanya saat gue menggerakkan jari gue membuka folder-folder itu, tahnapa jadi kangen.

Seriously, gue kadang kangen banget sama masa-masa itu. Jaman baru mulai belajar aljabar, masa-masa ketika nyimpen data masih pake disket, dengerin musik pake radio tape bareng Ryan kalo di rumah, dan pake Walkman segede batu bata kalo di jalan. Pulang-pergi sekolah jalan kaki bareng si kembar Mayumi-Megumi dengan sesekali ketemu Adi atau Sheren yang rumahnya searah, main basket di lapangan bareng anak-anak komplek diajarin sama duo atlet kaka-ade Odi dan Astrid, ngobrolin film, musik, bola, sampe ngakak-ngakak sama cewek the blues Mira, Illina, Ami. Ke mana-mana bareng.
Duh, gak bisa lagi nyebutin satu-satu, ahaha kangen.

Linkin Park, Panic! At The Disco, MCR, Good Charlotte, Timbaland, Avenged Sevenfold, Justin Timberlake, Natasha Beddingfield, Aih, my favorite kind of music in that time.. kangen. Bahkan ketika gue menulis ini sambil dengerin musik-musik itu semua, tahnapa ada gelombang nostalgia yang bikin kangen banget.

Kita waktu itu masih muda, Masih alay, gue bahkan masih inget dulu ngasih nama kelas gue hAnt0e LoeMoEtH, Hamparan-Anak-8.7-Lucu-dan-Imut. BUAHAHAHAHHAHA! Gue pernah ngelewatin fase ngetik sms gede-kecil! ahahaha!

Dan lihat sekarang..
Mayumi-Megumi sekarang udah jadi duo kembar fashion designer. Illina, yang dulu culun banget, sekarang udah jadi bu dokter cantik berhijab, main gitarnya juga udah jago, kemarin habis konser lho dia. Odi dan Astrid dua-duanya kuliah di Jerman dengan beasiswa atlet. Adi yang di sekolah dulu pinter banget, yang gue kira bakalan jadi some kind of scientist or accountant, eh ternyata sekarang jadi DJ yang segala akun medsosnya punya ribuan followers dan postingan fotonya bareng cewe seksi mulu.

Guys, kalian luar biasa banget. Bukan luar biasa karena jadi kaya, populer, atau punya pekerjaan mentereng. Nope, kalian keren karena kalian udah bisa nemuin passion kalian, nemuin hal yang -bener-bener kalian suka, dan mendalaminya sepenuh hati. Karena toh bukankah jika lo bisa nemuin passion dan mendalaminya dengan serius, uang dan kesuksesan akan datang mengiringi bukan? Gue punya temen yang pas sekolah gak terlalu menonjol dalam matematika atau fisika, sering kesusahan dan dapet nilai jelek di mata pelajaran hitungan, tapi dia selalu tau isu-isu internasional, punya banyak temen bule, dan kalo ngobrol sama dia itu berasa lagi baca The Times, BBC, dan segala media-media berat lainnya. Terus, gimana dia sekarang? Masuk hukum internasional dan kerja di Kemenlu. Setiap dia ngepost di facebook, isisnya apalah itu, liberalisme, kapitalisme, PBB, apapun lah yang bikin bagian otak gue yang merespon tulisan panjang dan berat serasa kedip-kedip merah ting-dung-ting-dung, meledak.
Aih, gue bangga banget sama mereka.

Jadi inget penggalan lagu jaman SD-SMP dulu:

"Reese Witherspoon,
She's the prom queen
Bill Gates,
Captain of the chess team
Jack Black, the clown
Brad Pitt, the quarterback
I've seen it all before
I want my money back"
(Bowling For Soup - Highschool Never Ends)

Kadang, semua udah bisa dilihat dari ketika masih sekolah. Apa yang menjadi keahlian seseorang saat masih anak-anak atau jaman sekolah, yakin deh ada peluang besar bahwa bidang itu yang akan menjadi keahliannya di masa depan. Semua temen-temen gue yang golongan otak kanan, alias anak-anak kreatif yang sering menang lomba menggambar dan melukis, sekarang pada jadi desainer grafis, temen gue yang dulu pernah jadi ketua ekskul mading dan gambarnya wow banget, sekarang udah tembus jadi graphic designer di Ismaya, perusahaan lifestyle raksasa itu loh. Ada lagi temen sekelas gue yang dulu pernah jadi ketua Osis, yang kalau pidato bisa bikin semua orang diam seketika dan bergetar hatinya. Seriusan, dulu pas kelulusan aja, pidatonya bisa bikin semua hadirin, baik itu guru-guru, orang tua murid, anak-anak yang lulus, dan bahkan para pengisi acara dan satpam gedung aja langsung tercuri perhatiannya ke dia dari yang tadinya rame. Ngalahin pidato kepala sekolah. Pokoknya kalo soal public speaking, dia jagonya. Dan sekarang, lo bisa nemuin wajahnya lagi ngeliput berita terbaru di salah satu channel berita nasional. Masih terlihat karismanya.

Tapi gak semua. Banyak juga yang melenceng. Ada yang nemuin hal lain yang lebih menarik, ada juga yang karena faktor orangtua. Yang pasti, banyak faktor yang bisa merubah seseorang. Gue sempet kaget banget sama sahabat gue yang dari SMP jago banget bikin komik, tapi gak dibolehin masuk jurusan desain, dan sekarang jadi programmer, keren juga sih. Paling gak, bakat gambarnya bisa dia pake buat ngedesain game misalnya?

The point is, passion itu bisa macem-macem bentuknya dan juga waktu datangnya. Buat temen-temen gue di atas, mereka udah ngerti passion mereka dari awal dan mereka bener-bener bisa ngembanginnya, fokus di satu tujuan. Ingat, passion adalah hal yang kita sukain dari lubuk hati, gak mesti bakat dari lahir atau keturunan kok. Bagus kalo passionlo diiringi skill yang terus mengikuti, namun ada juga yang punya passion di suatu hal tapi gak terlalu bisa ngembanginnya. 


Aslinya, gue itu suka menggambar dan menulis. Dari SD, gue suka banget ngirim gambar ke majalah Bobo dan seneng banget kalo dimuat dan dapet hadiah. Gue suka bikin komik yang tokohnya temen-temen sekelas, dan tiap ada yang ultah, gue selalu kasih kado komik juga atau gambar. Hemat wkwk. Walau rempong, penuh effort, tapi selalu ada kepuasan setiap karya gua dibaca dan dinikmati orang-orang. Tapi sayangnya hobi masa kecil gue ini gak pernah gue kembangin lagi. Temen-temen gue yang juga sama-sama tukang gambar, bisa fokus dan sekarang bener-bener berkecimpung di bidang gambar-menggambar itu. Kalo soal nulis, gue dulu pernah punya project bikin majalah yang gue jualin ke temen-temen gue. Gue yang bikin tulisannya, rubrik-rubriknya, cerpennya, bahkan mini gamesnya dan juga niat banget buka kiriman surat atau cerita pendek dari temen-temen. Sekarang sih, well, cuma gue jadiin hobi aja. Sayang sih, tapi guelah yang paling ngerti kalo dulu gue susah buat fokus di satu bidang aja. Gue selalu suka mencoba hal-hal baru. Gue juga suka science dan matematika. Beberapa tahun kemudian, gue mencoba bidang engineering, gue juga suka, suka banget malah. Tapi ternyata, kemampuan otak gue gak seberapa di bidang ini, gue sadar, meskipun gue suka. Dan apakah gue akan berkecimpung juga di bidang engineering ini? Gak tau. Gue harus akui bahwa kadang gue sedikit menyesali gak ngembangin kemampuan menggambar gue, dan ada kalanya ingin juga jadi penulis. Tapi gue juga pingin mengapliksaikan ilmu teknik gue untuk orang banyak, belajar lebih mendalam, menjadi engineer yang cemerlang.


Apakah gue ini anak kanan atau anak kiri? Kata Tania, sahabat gue, gue itu cocoknya di bidang seni dan lifestyle, tapi kata pacar gue, gue lebih cocok di eksak. Apa gue mix aja dua-duanya? Seriuously, umur 22 tapi masih gak tau mau jadi apa itu.... kayak lo lagi di perjalanan, terus nemuin persimpangan banyak banget tapi gak tau mau lewatin yang mana. Terus lo akhirnya bikin tenda di situ, kemping sampe dapet ilham yang gak tau kapan datengnya. Antara mau masukin satu-satu terus balik lagi kalo gak cocok juga gak mungkin karena lo tau, lo bukan Edward Cullen yang abadi coy. Lo punya batas waktu. Orangtualo punya batas waktu.

Satu hal yang pasti, ini jadi pelajaran juga, sebagai seseorang yang usianya udah berkepala dua, kalau lihat adek-adek kita, atau bahkan besok anak-anak kita, jangan pernah remehkan impian mereka. Saat di jalan dan melewati taman kanak-kanak atau sekolah dasar, lihat deh, anak-anak ingusan  yang masih merengek-rengek ke mamanya minta beliin cimol itu, bisa jadi di masa depan, di antara mereka besok ada yang jadi aktor, pengusaha sukses, artis, menteri, atau apapun. Kita gak pernah tau. Jangan pernah bilang "kamu gak akan bisa" kalau besok udah jadi orangtua. Dan saat dari kecil udah keliatan bakatnya, dibimbing biar bisa berkembang. Jika tiba-tiba passionnya berubah, beri kebebasan memilih dan tetep dukung selama itu hal yang baik. Percayai anakmu bahkan ketika anakmu tak bisa mempercayai dirinya sendiri. Seperti orangtua gue yang tetep percaya bahwa gue mampu, ketika gue curhat sampai nangis minta berhenti kuliah ketika menjalani perkuliahan di teknik kimia yang berat banget. Thomas Alfa Edison gak akan jadi ilmuwan sukses seandainya ibunya berhenti mempercayainya ketika mendapat surat dari sekolah yang menyatakan bahwa putranya itu idiot.
Tapi ya ga mesti jadi Edison juga sih. Jadi orang biasa yang sukses dalam kadarnya sendiri dan bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya, itu udah luarbiasa banget.