Senin, 22 Juli 2013

Bintang dan Lorong Putih

Bintang, sampai kapan ia akan menangis,
Dalam senyuman, hatinya teriris,
Lagi-lagi takdir membunuhnya sadis,
Hidup memang tak selalu manis,

Bintang, janganlah kau merana,
Dongen-dongeng terdengar mempesona,
Tak kau miliki dan buat kau bertanya,
Akan cintamu yang entah di mana,

Oh lihat itu dua kenalannya lewat di depan jendela

Kemudian, oh tidak, Bintang, hentikan.

Jangan lagi kau buatku tenggelam dalam air matamu

Ia pergi ke bawah. Di depan cermin, ia tusuk wajahnya sendiri. Kemudian sembuh, lalu ia tusuk lagi. Sembuh, tusuk, sembuh, tusuk. Berabad-abad terus tanpa henti.

Kemudian Bintang akan naik lagi ke kamarnya. Di kotak itu, ia simpan pisaunya. Entah pisau yang keberapa ribu kali ini. Sambil ia simpan kotak itu di kolong kasurnya, hatinya terus menyesal. 
Mungkin aku memang manusia terkotor di bumi ini, pikirnya.

Bintang sahabatku, ia bukan gadis gila, ia hanya tak mampu menjawab rasa yang mengganjal di hatinya, 

"MENGAPA AKU TAK BISA SEPERTI MEREKA??!!!"

Dalam lorong gelap tak berujung, ia teriakkan pertanyaan itu. Lalu ia cabut jantung dari dalam dadanya.
Darah mengucur deras.

Bintang si gadis biasa yang sangat biasa, dalam hatinya ia terus tanyakan.

"Di manakah kau yang terima buruk rupaku?"
"Di manakah kau yang terima kebodohanku?"
"Di manakah kau yang terima kekasaranku?"
"Di manakah kau yang mampu melihat baikku?"
"Di manakah kau, kau yang akan sangaaaat aku cintai lebih dari diriku sendiri?"

"Tak perlulah kau yang kata orang sempurna akan segalanya, yang ku ingin hanyalah ia yang ku kenal dan ku cintai karena Tuhan. Ia yang tak hanya belahan jiwaku, namun juga sahabat tempatku berbagi hingga akhir hayat"

"Aku ingin seperti mereka, sungguh. Aku ingin punya kisahku sendiri. Aku juga manusia.  Aku tak perlu  uang banyak ataupun kedudukan, aku hanya ingin mencintai dan dicintai"

"MEREKA MENDAPATKANNNYA! MEREKA MENDAPAT YANG JUSTRU SANGAT SEMPURNA. SEMENTARA AKU HANYA MENGINGINKAN HAL YANG SEDERHANA, NAMUN TAK PERNAH KUDAPATKAN!"

"Aku kurang apa? Kurang cantik seperti dia? Apa sifatku yang apa adanya ini justru buruk? Perlukah aku berubah?"

Dalam gejolak jiwanya, Bintang menuliskan semua itu dengan darahnya pada tembok lorong ini. Lorong putih yang tak pernah tersentuh orang lain.

Ia lalu ragu, mungkin pertanyaannya bukanlah "Di manakah kau" namun "Adakah kau"

Dalam kubangan darah, Bintang menangis. Wajahnya biru. Bintang pun mati tenggelam dalam darah bersama luka di hatinya. Ia dan lorong itu tak pernah ditemukan. 

Hanya aku, nuraninya yang tahu semua di mana.

Minggu, 14 Juli 2013

SMA

Hari pertama tahun ajaran baru, anak sekolah mulai masuk. Iseng aja gue lagi pingin jalan keluar sembari nemenin adek gue sekolah, bukan karena jogging pingin kurus kok, tapi lagi pingin jalan aja liat yang seger pagi-pagi, hehe

Sepanjang perjalanan, gue sempet liat ada anak cewek berseragam naik motor dibonceng bapaknya, dengan rambut dipita warna-warni kayak lenong, bawa balon beterbangan sepanjang jalan. Kayaknya sih buru-buru. Mungkin ketiduran atau kebiasaan beser tiap abis sahur, bukan urusan gue sih, jadi sebenernya gue sendiri ga ngerti kenapa juga harus ngebahas alasan nih bocah telat segala, ga ada hubungannya, haha.

Tapi tiba-tiba, muncul gelombang hitam-putih dalam diri gue. Tertangkap ingatan akan seorang cewek pendek, item, cupu, namun idup, naik angkot sendirian subuh-subuh dari Pamulang sampai Cisauk. Pas turun, baru deh tuh gue ketemu segerombolan kucrit bernasib sama. Ada temen SMP gue si Hening, Illina, Tommy, banyak deh. Rebutan beli balon gas udah kayak anak babi rebutan makanan, hehe. Yap, cewek cupu ini adalah gue :)

Ah SMA...
MOS, seragam putih abu-abu, upacara, temen sebangku, sahabat se-geng, kantin tempat nongkrong, pohon rindang tempat ngegosip, lapangan tempat latihan ekskul, OSIS, pedekate, pacaran sama senior, nge-band, diputusin, tugas, debat, study tour 3 hari 2 malam, bimbel, ngurus pensi, pusing mikirin tugas, pusing mikirin ulangan, pusing mikirn mau kuliah jurusan apa di mana, pusing mikirin masa depan, canda, tawa, sedih, cemburu, berpisah,...

Semuanya hal kecil yang dulu kita anggap biasa aja, tapi begitu udah lepas semua, baru rasanya kangen banget. SMA tuh masa yang santai, santai bukan tidur-tiduran di pantai, tapi SMA tuh masa-masa saat kita lagi punya banyak mimpi. Saking banyaknya, sampai bingung mau masuk IPA atau IPS. Begitu udah masuk IPA, bingung lagi mau masuk kedokteran apa teknik, eh begitu lulus, malah murtad ke komunikasi, hahaha
Dan jelas, beda banget sama yang namanya kuliah.. Yaudahlah ya ga usah dibahas kuliah itu kayak gimana, pokoknya mah beda banget. Kuliah itu udah lebih dekat ke dunia kerja, dunianya udah dewasa, udah ga seliar remaja dulu.

Kalo boleh jujur, Waktu SMA, banyak hal yang nyesel udah gue lakuin, ga usah dibahas juga hal-hal ini apa aja, sakit. Tapiiiii lebih banyak hal yang nyesel gak gue lakuin, dan sekarang udah ketuaan buat ngelakuinnya. SMA tuh, pingin nakal, nakal aja. Pingin berontak, berontak aja. Banyakin prestasi, banyakin tampil. Remember YOU ONLY YOUNG ONCE! Gue nyadar dulu gue terlalu cupu. Sering malu-malu, ga nyetak prestasi, cupu, ga pede, pokonya cupu deh ah!

Makanyaaaaaa gue pingiiin banget demi apapun muter balik waktu dan kembali jadi gadis berseragam putih abu-abu itu lagi. melangkah dari gerbang sekolah ke dunia penuh mimpi itu. Sekali lagi.
Gue janji bakal lebih ceria, lebih pede, banyakin organisasi, ikut kursus drum lagi tapi lebih niat, gabung ekskul kece, gak keluar dari salah satu komunitas yang dulu pernah gue ikuti tapi terus keluar (dan sekarang udah jadi komunitas besar), pingin bisa lebih cantik, dan gaul. 

Tapi gimana lagi, waktu ga bisa diputer balik, emangnya sepeda vixie =______=
Jadi yang bisa gue lakuin hanyalah buka MP3, dan dengerin lagu jadul kece ini:

Four years you think for sure
That’s all you’ve got to endure
All the total dicks
All the stuck up chicks
So superficial, so immature
Then when you graduate
You take a look around and you say HEY WAIT
This is the same as where I just came from
I thought it was over
Aw that’s just great

The whole damn world is just as obsessed
With who‘s the best dressed and who‘s having sex,
Who‘s got the money, who gets the honeys,
Who‘s kinda cute and who‘s just a mess
And you still don’t have the right look
And you don’t have the right friends
Nothing changes but the faces, the names, and the trends
High school never ends

.....
And you’re still listen to the same shit you did back then
High school never ends

High school never ends

.....
And I still have the same three friends
And I’m pretty much the same as I was back then
High school never ends

High school never ends

High school never ends

Here we go again

(Bowling For Soup - High School Never Ends)



Gue kangen kalian semua...

Sabtu, 18 Mei 2013

Perkap

     Ohya, gue belom cerita, selama 6 bulan ini gue sibuk jadi panitia acara jurusan, namanya Petroleum Industry Training (PIT). Gue masuk di seksi perkap. Awal dibuka pendaftaran panitia, sama sekali ga kepikiran buat milih seksi ini. Waktu itu, gue milih seksi *piiiip* dan udah wawancara segala gitu. Tapi gue akuin jawaban gue emang ngaco wkwkwk, eh ternyata pas pengumuman, gue diterima. Dapet SMS yang isinya selamat, tapi gak gue baca sampai akhir, jadi gue pikir, gue diterima di seksi piip itu, sampai akhirnya, Ayi ngebaca SMS gue, dan dia langsung bilang:
"Ngaco, Sarprasdek tau lu ndah, ini mah perkap! Haha!"
Haaah? Jauh banget, gue mau apa, dapet di apa =________= ga tau apa karena gue kelihatan macho apa gimana, tapi gue beneran heran waktu baca ulang smsnya. Kalo kata Harfan, mungkin gara-gara gue kayak benang kusut, hahahahahahhaasem

Tapi pada akhirnya gue ga nyesel masuk seksi ini. Yeah right.

Jadi ceritanya gue "dilempar" ke seksi perkap yang isinya 11 cowok yaitu Ridho, Vito, Arya, Novri, Reza, Rendy, Afta, Harry, Faqih, Ardy, dan Humam di bagian kuli, plus 4 cewek yaitu gue, Saras, Herlin, dan Salmer di bagian dekorasi.
Yeah right, ini seksi yang paling nguras tenaga dan pikiran banget. Awal kepanitiaan, saat seksi-seksi lain pada belum ada kerjaan, kita udah harus survey nyari tempat, dan bahkan sampai akhir acara pun masih harus bersih-bersih plus ngembaliin barang sewaan.

Tapi awal dari job kuli kami waktu awal tahun baru kemarin, pas lagi acara reuni jurusan, kami disibukkan dengan bikin stand promosi PIT, trus waktu jualan tiket, bikin stand lagi. Ngegambar pabrik di kertas linen ukuran jumbo, trus yang cowok, bikin gapura dari bambu.





Tapi yang paling capek tuh beberapa minggu sebelum hari-H. Kami dapet ide dekorasi buat bikin maket pabrik yang dikasih lampu-lampu biar nampak glamour. Maka jadilah beberapa orang terpilih *eaaa* plus para sahabat perkap, rutin ke HonFab (Kayak studio arsitektur gitu) demi ngebikin itu maket dari mulai ngedesain pabriknya *thank to Ais si master AutoCad*, buat dicetak, habis itu dibentuk jadi figur-figur 3 dimensi, sampe akhirnya disusun sesuai desainnya. Dan itu bener-bener nguras tenaga dan waktu banget. Sampai bolos matkul elemen mesin segala. Hahaha bener-bener deh!








Ada satu kejadian yang menjadi titik balik dari yang tadinya kami rada males kerja, jadi berubah pada getol. Satu peristiwa yang bikin kami membuka mata dan itu mengubah sistem kerja kami jadi lebih baik. Gue sendiri juga sempet nge-down di minggu terakhir sebelum hari-H. Gue ngerasa gak nyaman, sebel, jenuh, ngerasa cemen dan ga adil. Lukisan yang gue bikin di BSO robek, jadi harus ngerjain di kost sampe pagi. Dan itu bener-bener bikin gue gila. Apalagi di H-1, gue udah capek-capek nyari  botol kaca jauh-jauh, ngebut dan mengejar waktu takut Lab Minyak Bumi tutup, tapi ternyata botolnya ga dipake. Gue sampe ga bisa nahan air mata...

Tapi kami bekerja pake sistem "serius namun santai". Sambil ngerjain semua tugas-tugas itu, kita ga berhenti buat bercanda, ngobrol, kesel-keselan, bete-betean, ketawa, saling hina, saling mesum, saling maksa, saling bantu, dan saling prihatin. Dan itu semua bikin kami jadi lebih mengerti satu sama lain. Herlin dan Saras yang tadinya kalem, jadi keluar alaynya. Gue, yang awalnya sompret, hmm... tetep sompret wkwk



Dateng bareng, ngerjain bareng, makan bareng, main bareng, dan bahkan yang cowok aja sampai pada nginep di rumah Rhino demi nyelesein maket.

Akhirnya, 11-12 Mei 2013, hari-H! Gue kebagian jadi L.O. yang kerjaannya harus melayani (?) peserta. Selesai hari 1 pun kami masih harus rapiin gapura buat besoknya. Sampe acara selesain pun perkap masih harus beres-beres dan bersih-bersih. Kurang macho apa coba?

Pito dan Pita: "Selamat Dataaang ^^"



Maket yang dibikin sampe babak-belur

Reza tepar

Cape banget

Akhirnya selesai deh acara PIT! Yeay!

Besoknya, kami "rapat" evaluasi khusus Sarprasdek. Dibilang rapat juga, isinya curhat dan kesan-kesan kami selama jadi perkap. Jadi saling ngerti isi hati dan kekesalan semua anggota, dan gue dipaksa curhat gara-gara beberapa anak ada yang liat gue nangis. You know what, pas gue mengakui kalo gue pemalu, kontan semua pada ketawa ngakak! Anjir, gue tuh emang pemalu tauuuu!! Kok diketawain sih =______=

Dan "rapat" itu adalah jarkom sayang terakhir dari boss Ridho. Biar dikata PIT udah selesai, itu semua bener-bener left so much things to me. Banyak yang gue alami dan gue pelajari dari semua ini. Kerja sama dengan orang dari berbagai daerah dengan berbagai karakter itu ternyata merupakan seni tersendiri.


Dari mulai si Ridho, boss koor yang orangnya keras, blak-blakan, dan sering bikin gue kewalahan harus ngikutin dia, walau kadang nyebelin, tapi itu semua ya demi totalitas pekerjaan kami. Doi lah yang rajin ngejarkom, nyusun job-desk anggota, sampe niat banget bikin timeline target pekerjaan. Berkat itu semua, kami bisa nyelesein maket, gapura, dan segala macem dekorasi serta perlengkapan tepat waktu dan hasilnya bagus banget. 

Terus Humam, si manusia tanpa ekspresi yang selalu "Talk (very) less but do more". Faqih, Ardy, Novri, dan Harry yang dari awal rajin dan bertanggung jawab banget. Lalu Afta, makhluk absurd doyan tidur yang ketika kami lagi kerja, dia malah mainan gabus, dan giliran kami lagi ngegergaji kayu buat bikin dekorasi, dia malah ngegergaji pohon hahaha. Tapi kalo ga ada dia, mungkin seksi ini ga akan seru. Ada lagi Ranu, Arya, dan Reza, yang lebih absurd lagi, salut sama mereka yang menurut gue, perkembangannya pesat banget. Makin ke belakang, makin rajin dan oke banget kerja-samanya. 

Belum lagi si Rendy, yang awalnya sibuk banget sampe gue susah buat ketemu dia demi ngebahas dekorasi, tapi lambat laun, apalagi sejak peristiwa titik balik itu, doi jadi lebih loyal dan enak diajak kerja-sama. Dan si Vito yang saking machonya, bisa menggergaji kayu sekaligus triplek, dalam satu tarikan napas. Otot kawat tulang besi!
Cewek-ceweknya, beuh, lebih absurd lagi. Herlin, Saras, dan Salmer, yang kalo lagi ga ada para cowok, sering melampiaskan stress dengan tereak-tereak, nyanyi ga jelas, dan sok-sok niruin acara Eat Bulaga hahaha

In the end, i gotta admit that i'm so proud of them. of we. Gue harus mengakui kesemua anggota perkap ini bener-bener kuat dan perkasa ^^

Bonus xP:

Selasa, 05 Maret 2013

Aku Ingin

Kalau bisa, aku ingin menjadi elektrofil. Si kecil yang mampu memaksa benzena yang lebih besar daripadanya untuk berikatan bersamanya.

Kalau bisa, aku ingin menjadi bintang kecil yang tak pernah berpura-pura tidak mencintai rembulan

Kalau bisa, aku ingin menjadi kelopak bunga dandelion tua, si petualang kecil yang bersahabat dengan si raksasa angin, agar ku bisa,,


,, menjadi bagian dari nafasmu...

Minggu, 03 Maret 2013

Pernahkah kau

Pernahkah kau merasa males banget sama sesuatu yang dulu pernah kau puja-puja???

Kau pernah menjadi merpati yang kini hanya menjadi serangga kecil yang bahkan tak mampu melompat rendah.
Kau yang dahulu ada di rumah merah itu, yang begitu nyaman dan disayangi, kini hanya mondar-mondir, kedinginan, dengan pisau menancap di nadimu.

Pernah ada satu masa, di mana (kau pikir) surga itu ada.
Pernah ada satu masa di mana (kau kira) kata lampau terbakar selamanya.
Pernah ada satu masa, di mana (kau percaya) hanya ada air mata bahagia.

Merah, kuning, merah, kuning, merah, kuning,,,
Tahukah kau, kota tanpa lampu hijau bernama Kesepian?
Saat kau melihat kelopak kalbu beterbangan namun sama sekali tak terlihat indah.
Mungkin nanti saat kau tak mampu lagi. Kau tua, kau karatan. Bahkan matahari pun bosan.

Tapi oh lihat! Dia datang. Sebuah larutan yang belum mengendap!
Maniiiiisssss sekali rasanya. Mungkin gula? Sirup? Tebu? C.. Cinta?

Lalu nasi basi terciprat dan iyuuuhh!!!
Tidak!!
Ohh!!
Argggh!!
Duak duak det det det det det!!!
Pshhhhhh~

"Apa kubilang!" Sahut si Otak Kadal

DIAM! DIAM! DIAAAAAAAAAAMM!!

"Apa kubilang, kau tak indah! Sakik tho?!" Lanjutnya lagi

TIDAAK! HENTIKAN. KUBACOK KAU! KUCINCANG DAN KUAMBIL ISI PERUTMU LALU KULEMPAR KE ANJING-ANJING LIAR!

"Wkwkwkwk"


Di beranda kampus teknik, kulihat debu-debu cinta berterbangan dari laboratorium....

Jumat, 01 Februari 2013

My First Experience with Mapala

Semester pertama kemarin, gue sama temen-temen kampus, naik Gunung Merbabu, yang letaknya di daerah Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Bulan Nopember 2012 kemarin, pertama kalinya anak-anak 2012 diajak naik gunung sama Mapateka. Yang namanya naik gunung mah, pasti asyik dan nikmat

Ohohohoo lupa. Mapateka tuh kelompoknya para pecinta alam (bukan Alam Mbah Dukun :P). Teknik kimia punya. Sebetulnya mah, waktu kecil gue udah pernah naik gunung Merapi. Nah gue pikir, kalo waktu kecil pernah, gedenya pun kudu berani, ya ga?

Beberapa hari sebelum hari-H, kita-kita disuruh olahraga dulu barengan. Biar kuat. Ya kali jarang olahraga trus tau-tau naik gunung, bisa encok hehehe.

Dimulai di hari Jumat pagi yang cerah kita kumpul di sekre Mapateka. Ngepak barang. Barang-barang berat macam botol air dibawa cowok-cowok. Nah yang lebih ringan dibawa cewek-cewek.

Gue dan Salma, nyiksa tas

Sebelum cao dari sekre, narsis dulu


Masih seger-seger mukanya

Gimana kita menuju Selo? Naik truk dong. Kan anak-anak petualang xD









Di jalan, pas udah deket tempat tujuan sih, itu truk ngambek ga mau nanjak karna keberatan. Jadi beberapa anak ada yang harus terpaksa turun. Ada-ada ajaa! Hahaha




Daaan sampai juga deh di basecamp. Kayak tempat singgah para pendaki gitu.


Kak Baceng ngasih instruksi

Foto dulu sebelum munggah

Dari gerbang ini, dimulailah pendakian



Di pendakian pertama gue ini, gue melakukan kesalahan yang amat fatal. Gue salah pake sepatu! Udah dibilang padahal, pake sendal atau sepatu khusus mendaki gunung, tapi gue pake apa coba? Converse! Ahhhhh!! Tolol sekali diriku. Dan ntu sepatu gak anti slip ternyata. Huhuhu gue jadi sering kepeleset. 


Sepatu sumber malapetaka

Masalah semakin gawat pas hujan turun. Medannya jadi licin. Apalagi pas hari berganti malam. Beuh, bawa senter cuma satu biji, redup, ga bawa batere cadangan pula. Cerdas! Padahal senior-senior udah nyuruh bawa, tapi bodohnya gue terlalu ngeremehin.
Ada beberapa medan yang super curam bin sempit. Gue sampe gak bisa naik saking ga berenti kepeleset dan jadi harus ditarikin. Yaampun gue jadi ngerepotin yang lain Q_____Q udah gitu karena senter mati, jadi gelap banget. Kacamata penuh lumpur ga bisa lihat apapun. Jadi butalah gue. Wakakak parah banget deh keadaan gue waktu itu. Gue jadi berpegangan sama senior depan gue yang senternya terang benderang. Ketinggalan dikit, matilah gue. Kanan jurang woy!
Pelajaran yang gue dapatkan adalah: Jangan pernah meremehkan apapun! Sekecil apapun itu!

Hihihi tapi itu adalah momen tersulit dan akan selalu gue kenang seumur hidup.

Akhirnya habis capek-capek berjuang, sampe deh di pos tempat camping. Belon sampe puncaknya. Kita kemah dulu, baru besok pagi lanjut naik ke puncak. Dan di tempat itu, udaranyaaa brrrrrrrrr!!!! Anginnya kenceng dan nusuk banget! Dan dengan indahnya gue cuma bawa jaket satu-satunya yang gue pakai. Dan itu pun basah. Sarung tangan juga. Tidur cuma pake sleeping bag tanpa jaket. Parah gila deh dinginnya. Tapi walau dingin gak nahan, angin gunung gak bikin sakit loh. Kenapa ya?

Sayang, malam itu ga sempet foto-foto saking capenya. Pas bangun pagi, baru sadar kalo pemandangan di lokasi kemah itu indah banget.


Merapi kelihataaan~





Siap lanjut ke puncak, dengerin instruksi sek










Selama perjalanan, kita disambut bukit-bukit gede di kanan-kiri kita. Ada satu bukit yang unik banget. Di lerengnya, ada tulisan "I ♥", romantis banget, hihihi. Siapa yang buat ya :O







I look like Megatron from Transformers 2 movie O..O

Kak Septi sama Salma, dikiiiiiiiiiit lagi sampe puncak

Dan akhirnyaaaa,, puncaak!!


Tetangga Merbabu, Merapi, kelihatan meen~

 







Di puncak tuh, rasanya ga mau turun. Dengan perjuangan yang gila-gilaan, begitu udah di atas dan harus turun, rasanya ga relaaaa. 
Tapi tetep harus turun hehe masa iya mau tinggal di situ.
  
Pelangi di perjalanan turun ke tempat kemah

Sampe di tempat kemping, langsung makan. Suasananya gak se-mencekam kayak malam sebelumnya. Malem kedua ini, susunan tendanya dibentuk lingkaran, trus disatuin pake terpal di atasnya. Sayang, ga ada fotonya. 
Paginya, kita semua dibangunin buat diklat. Nah, ini nih inti dari pendakian kita. Anak-anak baru, dijejerin di puncak bukit. Mata merem dan dimarah-marahin. Abis ntu, telapak tangan disuruh ditengadahin kayak orang berdoa gitu. Trus sama senior-seniornya dikasih sesuatu di telapak tangan. Nah, karena merem, gue ga tau apa yang mereka taruh. Sempet denger ada yang sampe ngeludah wkwkwk. Dan pas dibuka, ternyata campuran susu, bubuk kopi, sama telur mentah. Dan kita disuruh telen semuanya!






Masih merem dan nebak-nebak apa yang ditaruh


Disemangatin karena cuma gue yang belum nelen.
Lihat sebelah gue, Rara, muntah, jadi eneg juga gue hahaha

Tapi ada juga yang menikmatinya wkwkwk

Habis itu, sarapan. Trus siap-siap turun pulang 





Sebelum turun, yel-yel dulu biar semangat








Akhirnyaaaa,, sampai di bawaaah! \^0^/

Lanjut, dari basecamp kita ke tempat ketemu truk, truknya ga bisa ke situ karena jalannya kecil dan terjal, jadi kita nyamperin truk pake apa tebak? Mobil pick-up! Mobil yang biasa buat ngangkut sayuran ato kambing, dipake ngangkut sekelompok mahasiswa plus barang-barangnya. Biar mpet-mpetan, tapi seru! Wakakak!



Rara tersiksaa wkwkwk


Dari pick-up, ganti ke truk pasir


Cuaca sih, tadinya cerah. Di perjalanan, gue lihat pemandangan sambil menikmati angin sepoi. Syahdu banget. Tapi, semua berubah ketika hujan menyerang. Truk ditutup pake terpal. Sialnya, bocor =..=



Di tengah jalan, apesnya, truk sering mogok hahaha. Jadi telat deh. Tapi Alhamdulillah kita semua akhirnya sampai di Tekkim walau kemaleman

Sampe di Tekkim

Pulang dari naik gunung, sakit demam bukan karena naik gunungnya, tapi karena perjalanan pulangnya hujan-hujanan hahaha. Naik gunung ini bener-bener ngasih banyak pelajaran berharga buat gue. Tentang kerjasama terutama, dan juga tentang perjuangan, dan pastinya, pelajaran kalo kita harus mantepin persiapan matang kalo mau ngadepin sesuatu.

Terimakasih MAPATEKA ^^







Special thanks to Maulid Diana Sari for these wonderful pics ;)